- Mei 2017

Selasa, 30 Mei 2017

Ketahui risiko dari mewarnai rambut

Ketahui risiko dari mewarnai rambut,- mewarnai rambut dengan bahan kimia bukanya tak memiliki risiko. Beberapa penelitian menunjukan bahwa pewarna rambut kimia dapat mengurangi kelembaban rambut dan membuatnya jadi kering. Berikut adalah tujuh risiko dari mewarnai rambut.

Kanker pada anak
Jika seorang wanita menggunakan pewarna rambut sesaat sebelum pembuahan atau selama kehamilan, kemungkinan anaknya terkena kanker 10 kali lebih besar.

Kanker Payudara
Para- phenylenediamine (PPED) adalah kandungan yang hadir di sebagian besar produk pewarna rambut kimia. Senyawa ini menjadi karsinogenik pada payudara. Ada beberapa bukti lain yang menunjukkan bahwa penggunaan pewarna rambut memiliki hubungan dengan kanker payudara.

Penyakit Hodgkins dan multiple myeloma
Ada juga penelitian yang menunjukan penggunaan rutin pewarna rambut kimia mungkin menjadi salah satu penyebab di balik penyakit Hodgkin, jenis lain dari kanker getah bening, dan multiple myeloma.

Penyakit limfoma
Sebuah studi yang di lakukan oleh para peneliti di Universitas Yale menemukan bahwa mereka yang sering menggunakan pewarna rambut kimia memiliki risiko lebih besar terkena limfoma non-Hodgkin. Ini adalah kanker yang menyerang sistem limfatik, yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Kerusakan akibat kandungan pestisida pada produk
Beberapa pewarna rambut kimia mengandung etoksilat alkylphenol (APE), yang ditemukan di spermisida dan pestisida. Ini dapat menyebabkan gangguan hormonal dalam tubuh.

Efek pada mata dan kulit kepala
Beberapa produk pewarna rambut dapat menyebabkan iritasi dan kemerahan di mata. Juga, mereka dapat menyebabkan gatal-gatal, luka, dan sensasi terbakar pada kulit kepala.

Reaksi alergi
Reaksi alergi yang disebabkan oleh pewarna rambut bisa sangat berbahaya. Jadi, sebelum mewarnai rambut, pastikan bahwa Anda sudah melakukan tes terlebih dulu sebelum Anda mengaplikasikan tersebut.

Senin, 15 Mei 2017

Berikut Jenis Kanker Paling Sering Menyerang Anak

Berikut Jenis Kanker Paling Sering Menyerang Anak,- Tidak seperti orang dewasa yang biasanya terkena kanker pada bagian organ secara keseluruhan, eperti kanker payudara atau prostat, kanker yang menyerang anak cukup berbeda. Apa saja? 

Kanker tulang
Jenis kanker yang juga sering menyerang anak adalah kanker tulang (sekitar tiga persen). Terkadang kanker tulang disebabkan oleh kanker lain yang akhirnya menyebar sampai ke tulang.

Kanker mata
Berikutnya ada kanker mata yang biasanya menyerang anak-anak berusia 2-6 tahun. Adanya kanker mata membuat mata anak terlihat putih atau merah muda ketika dipotret. Penglihatan anak yang tidak wajar pun perlu diperhatikan dengan seksama agar kanker yang menyerang tiga persen penderita anak bisa segera di tangani.

Rhabdomoyosarcoma
Rhabdomoyosaroma biasa disingkat dengan RMS. Kanker ini menyerang tiga persen dari seluruh jumlah anak penderita kanker. RMS biasanya berkembang pada sel-sel otot rangka yang berfungsi untuk menggerakkan bagian tubuh.

Limfoma
Kanker limfoma menyerang kelenjar getah bening dan jaringan getah bening yang lain, seperti amandel. Terkadang limfoma juga memengaruhi sumsum tulang serta organ lainnya. Pada dasarnya ada dua jens kanker limfoma, Hodgkin dan non-Hodgkin. Limfoma Hodgkin menyumbang empat persen kanker pada anak (dan biasanya juga menyerang orang dewasa). Sementara limfoma non-Hodgkin sering tumbuh dengan cepat dan memerlukan perawatan  intensif.

Nefroblastoma
Nefroblastoma adalah kanker yang menyerang salah satu atau kedua ginjal anak-anak yang rata-rata berusia 3-4 tahun. Tanda dari kanker nefroblastoma adalah munculnya pembengkakan atau benjolan di bagian abdomen anak. Nefroblastoma menyerang 34 persen dari seluruh penderita kanker pada anak.

Neuroblatoma
Neuroblastoma merupakan bentuk kanker yang mulai terbentuk pada sel-sel saraf ketika bayi masih berada dalam kandungan. Kanker jenis kebanyakan ditemukan pada bayi dan anak kecil atau yang tidak lebih tua dari 10 tahun. Sekitar tujuh persen anak penderita kanker menderita penyakit ini.

Tumor otak dan sistem syaraf
Sebanyak 27 persen kasus kanker anak adalah jenis yang satu ini. Untuk kasus tumor otak, ada banyak pula jenis dan cara menanganinya. Biasanya tumor otak menyerang bagian sel batang atau cerebellum atau otak kecil. 

Leukimia
Leukimia yaitu kanker darah dan sumsum tulang belakang, setidaknya menyerang 34 persen dari seluruh penderita kanker pada anak. Jenis dari leukemia itu biasanya adalah acute lymphocytic leukemia (ALL) dan acute myelogenous leukimia (AML).

Itulah berbagai jenis kanker paling sering menyerang anak. Sebenarnya ada banyak jenis kanker lain yang bisa menyerang anak meski jumlahnya relatif jarang.

Rabu, 10 Mei 2017

Pasien Kanker Payudara Tidak Boleh Makan Daging, Itu Hanya Mitos

Pasien Kanker Payudara Tidak Boleh Makan Daging, Itu Hanya Mitos,- Banyak wanita takut dengan kanker payudara, namun banyak juga yang masih belum mendapatkan edukasi tepat tentangnya. Sebagai salah satu penyakit dengan angka kematian terbesar bagi para wanita, banyak kekhawatiran muncul. Sayangnya, banyak mitos tak tepat tentang kanker payudara yang masih dipercaya kaum Hawa.

Disampaikan Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN) Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, Sp.PD-KHOM sangat menyayangkan banyak mitos dan berita tidak benar (hoax) tentang kanker payudara.

Menurutnya, hal ini sangat merugikan para pasien kanker payudara. Salah satu mitos yang dipercaya masyarakat ialah penderita kanker payudara dilarang mengonsumsi daging.

"Makanan untuk penderita kanker payudara tidak ada masalah sama sekali. Bahkan ada yang bilang nggak boleh makan daging, itu salah sekali, yang mengatakan seperti itu sama saja mau membunuh penderita kanker payudara," ungkap dr. Arry dalam acara Beban Kanker Payudara Terus Meningkat oleh Roche.

Padahal, dr. Arry menjelaskan pasien kanker payudara membutuhkan protein dan lemak dari daging untuk mengisi protein dan lemak yang cair, terus menerus. Karena kanker bukan hanya menyebabkan benjolan, tapi juga menyebarkan racun ke seluruh tubuh. Hal inilah yang membuat pasien kanker payudara demam, berat badan turun, daya tahan tubuh rendah, hingga protein dan lemak menjadi cair. Sebab, yang membentuk otot adalah protein.

"Protein dan lemak, bisa dipakai untuk tubuh pasien, tapi tidak akan dimakan oleh sel kanker. Selain itu, protein dan lemak juga bisa membuat daya tahan tubuh tetap kuat yang sangat diperlukan pasien," ujarnya.

Selain itu, pasien kanker sebaiknya mulai mengurangi karbohidrat. "Setiap orang, baik pasien kanker maupun mereka yang masih sehat haruslah mengonsumsi makanan bergizi baik. Karena tidak ada satu pun obat yang bisa membunuh sel kanker sampai habis," tambahnya.

Jika daya tahan tubuh baik, sel darah putih juga akan baik pula. Hal inilah mengapa usia muda jarang terkena kanker karena sel darah putihnya masih baik. Jadi menjaga daya tubuh sangat penting.

Sabtu, 06 Mei 2017

Cara Bedakan Benjolan di Leher karena Limfoma atau Infeksi

Cara Bedakan Benjolan di Leher karena Limfoma atau Infeksi,- Salah satu tanda umum adanya limfoma atau kelenjar getah bening adalah benjolan di leher. Namun, bukan berarti setiap benjolan yang muncul di leher adalah limfoma. Benjolan juga bisa muncul karena infeksi. Bagaimana membedakannya?

Dokter dari Divisi Hematologi Onkokogi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Dr.dr Andhika Rachman SpPD-KHOM menjelaskan, benjolan karena limfoma tidak akan terasa sakit jika ditekan. Sedangkan karena infeksi akan terasa sakit.

"Limfoma itu painless atau enggak ada nyeri sama sekali pada bejolan. Kalau infeksi, misalnya radang tenggorokan, benjolan di leher akan terasa sakit, juga sakit saat menelan," ujar Andhika.

Andhika mengatakan, sistem saraf dan aliran darah di daerah leher sangat baik sehingga mudah membengkak jika terjadi masalah. Dalam kasus limfoma, benjolan pun biasanya tak hanya muncul di satu tempat dan saat diraba seperti bergerombol.

"Kalau karena limfoma biasanya juga disertai demam yang tak terlalu tinggi, yaitu di bawah 38 derajat celsius," jelas Andhika.

Selain di leher, benjolan juga bisa muncul di daerah ketiak. Namun, benjolan di ketiak juga bisa muncul karena kasus infeksi, misalnya radang folikel rambut dan teras sakit.

"Jadi jangan setiap kali muncul benjolan di leher atau ketiak langsung takut karena dikira limfoma," kata Andhika.

Mewaspadai munculnya benjolan sebagai gejala limfoma memang diperlukan. Untuk itu, lebih baik segera periksa ke dokter untuk mendapat diagnosis dengan pasti. Bersyukur jika hasilnya bukan kanker kelenjar getah bening. Meskipun hasilnya kanker pun tetap bersyukur karena diketahui lebih cepat.